Minggu, 15 Mei 2011

Puisi Dion - Aku Terdiam

Aku Terdiam

Kata bagaikan panah meluncur menghujam,
Menusukan sisi yang tak kau pahami
Membidik di balik lautan rasa asyik masyukmu
Peluh pelipis bola matamupun belum kering saat kau katakan
Lahar gunung memuntah tak seberapa dibanding rasa cemburuku

Aku yang terdiam dalam gua kesunyian,
Tak mampu melangkah walau setapak
Titian malam hanyalah kesunyian tak mampu mengubah indahnya warna
Akupun masih terdiam bagai karang
Tak mampu mengucap sepatah kata walau lidah tak kelu
Titian malam melantunkan rasa rindu yang tak mampu goyahkan kuatnya pilar

Adakah aku terjerat dalam kebingungan mendayung ?!
Sedangkan Laju perahumu terkembang di balik sinar lembayung
Gaun putihmu berkibar, setulus putih cintamu
Adakah aku tertambat dalam bisik pesona keemasan hatimu ?
Sedangkan Bahtera sucimu melaju anggun mempesona di gulungan ombak menderu
Senyum manismu menawan, seindah gambaran bidadari
Namun keperawanan cintaku terampas noda cemburu

Malam masih menyisakan pernik perenungan
Yang tak tuntas mengukir pahatan Cinta
Malam masih bertabur bisik kata tak jelas
Yang tak bisa meretas memaknai igauan nurani
Semakin larut kutangisi perasaan yang tak kupahami hingga kini
Sejatinya aku sungguh mencintaimu.

Semarang, 11 Desember 2010/3.10
By : DioN Erbe

Sabtu, 14 Mei 2011

Dion - Pilar Kepalsuan




Siang menyengat bertabur jerat
Kerinduan tak sanggup menghapus pilar-pilar kepalsuan
Suara gempita bertambur di teriknya Siang menyengat penuh jerat
Kau tulis seribu kerinduan masih tetap tak mampu mengapus pilar-pilar kedustaan
Kau kerat tintamu tetap tak mampu menggugah nurani Sang Durjana

Darahmu satu,
Jangan gamang menyisir pematang tak bertepi.
Hasratmu satu,
Membendung aliran deras kecongkakan
Bentengmu satu,
Mengalirkan warisan kekuatan


Derita tanah leluhur,
Disana sini penuh bertebaran pasak kesombongan
Tangisan anak negeri yang ternistakan,
Di pojok gelap jeruji masih bersanding lumpur


Malam ini langit melafazkan ayat-ayat kauniah
Tersungkur aku bertafakur di galaksi luhur-NYA
Kutengadah tangan dan berharap mengemis Cinta-NYA
“Ya Allah, kapankah tanahku tersiram kedamaian tanpa setetes darah ?”


Semarang, 17 Oktober 2010 jam 1:27 dinihari
Oleh : DioN Erbe

MacamMacam Majas




Majas adalah bahasa kias yang dipergunakan untuk menimbulkan kesan imajinatif atau menciptakan efek-efek tertentu bagi pembaca atau pendengarnya. Majas terdiri atas:
1). Majas Perbandingan;
2). Majas Pertentangan;
3). Majas Sindiran;
4). Majas Penegasan.


a. Majas Perbandingan

Majas perbandingan terdiri atas tujuh bentuk berikut:


1) Asosiasi atau Perumpamaan

Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama.
Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana.
Contoh :
a) Semangatnya keras bagaikan baja.
b) Mukanya pucat bagai mayat.

2) Metafora
Majas metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat.
Contoh :
a) Dia dianggap anak emas majikannya.
b) Perpustakaan adalah gudang ilmu.

3) Personifikasi
Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh:
a) Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
b) Ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai.

4) Alegori
Alegori adalah majas perbandingan yang bertautan satu dan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh:
Cerita Kancil dengan Buaya dan Kancil dengan Burung Gagak.

5) Simbolik
Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau lambang.
Contoh:
a) Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian
b) Melati, lambang kesucian
c) Teratai, lambang pengabdian

6) Metonimia
Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.
Contoh:
a) Di kantongnya selalu terselib gudang garam. (maksudnya rokok gudang garam)
b) Setiap pagi Ayah selalu menghirup kapal api. (maksudnya kopi kapal api)

7) Sinekdokhe
Sinekdokhe adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. 
Majas sinekdokhe terdiri atas dua bentuk berikut.
a) Pars pro toto, yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
Contoh:
(a) Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.
(b) Per kepala mendapat Rp. 300.000.
b) Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh:
(a) Dalam pertandingan final bulu tangkis Rt.03 melawan Rt. 07.
(b) Indonesia akan memilih idolanya malam nanti.


b. Majas Sindiran
Majas sindiran terdiri atas ironi, sinisme, dan sarkasme.

1) Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud menyindir.
Contoh:
a) Ini baru siswa teladan, setiap hari pulang malam.
b) Bagus sekali tulisanmu sampai tidak dapat dibaca.

2) Sinisme
Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh :
a) Perkataanmu tadi sangat menyebalkan, tidak pantas diucapkan
oleh orang terpelajar sepertimu.
b) Lama-lama aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.

3) sarkasme
Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Majas ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh:
a) Mau muntah aku melihat wajahmu, pergi kamu!
b) Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus!


c. Majas Penegasan
Majas penegasan terdiri atas tujuh bentuk berikut.

1) Pleonasme
Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara
berlebihan dengan maksud menegaskan arti suatu kata.
Contoh:
a) Semua siswa yang di atas agar segera turun ke bawah.
b) Mereka mendongak ke atas menyaksikan pertunjukan pesawat tempur.

2) Repetisi
Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.
Contoh:
a) Dialah yang kutunggu, dialah yang kunanti, dialah yang kuharap.
b) Marilah kita sambut pahlawan kita, marilah kita sambut idola kita, marilah kita sambut putra bangsa.


3) Paralelisme
Paralelisme adalah majas perulangan yang biasanya ada di dalam puisi.
Contoh:
Cinta adalah pengertian
Cinta adalah kesetiaan
Cinta adalah rela berkorban

4) Tautologi
Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu menggunakan kata bersinonim.
Contoh:
a) Bukan, bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukar
pikiran saja.
b) Seharusnya sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan bersaudara.

5) Klimaks
Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut dan makin lama makin meningkat.
Contoh:
a) Semua orang dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antri minyak.
b) Ketua Rt, Rw, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun tak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.

6) Antiklimaks
Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut yang makin lama menurun.
a) Kepala sekolah, guru, dan siswa juga hadir dalam acara syukuran itu.
b) Di kota dan desa hingga pelosok kampung semua orang merayakan HUT RI ke -62.

7) Retorik
Retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Contoh:
a) Kata siapa cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formal saja?
 b) Apakah ini orang yang selama ini kamu bangga-banggakan ?


d. Majas Pertentangan
Majas pertentangan terdiri atas empat bentuk berikut.

1) Antitesis
Antitesis adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yang berlawanan artinya.
Contoh:
a) Tua muda, besar kecil, ikut meramaikan festival itu.
b) Miskin kaya, cantik buruk sama saja di mata Tuhan.

2) Paradoks
Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan antara pernyataan dan fakta yang ada.
Contoh;
a) Aku merasa sendirian di tengah kota Jakarta yang ramai ini.
b) Hatiku merintih di tengah hingar bingar pesta yang sedang berlangsung ini.

3) Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan dari kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau meminta perhatian.
Contoh:
a) Suaranya menggelegar membelah angkasa.
b) Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.

4) Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan carayang berlawanan dari kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya. Tujuannya untuk merendahkan diri.
Contoh:
a) Makanlah seadanya hanya dengan nasi dan air putih saja.
b) Mengapa kamu bertanya pada orang yang bodoh seperti saya ini?

Dion Erbe - Memoar Cinta






Pernah,
Goresan lukisan dan ukiran selaksa indah mewangi terpajang
Dentingan syair menggugah tatapan pesona mata bidadari
Memoar tentang cinta dan kasih sayang yang tulus

Dulu,
Dalam kaul yang pernah diucap prasetya
Ingin membagi luapan rasa menepis kesombongan
Disana terlihat Rajawali berkalung biru sedang bertengger tak berdaya
Menatap Elang putih cantik dengan satu sayap yang terluka
Seakan ada rasa pilu yang membuncah di tengah kabut sutra hatinya

Kini,
Dia terseok-seok diantara karang tajam,
Melangkah lunglai bermandi tangis dalam hujan
Merentang tangan tak sampai, berteriak parau
Suara hatinya tertutup jelaga diantara pelita
Oh…waktu demikian cepat berlalu
Namun jarak yang terbentang selalu menghadirkan rindu
Katakata sudah tidak lagi menjadi arti
Akankah menunggu esok membawa asa dalam waktu yang tak dimengerti ?



Semarang, 14 Mei 2011
by DioN Erbe

Kamis, 12 Mei 2011

Dion - Tanpa Senyummu

  

Waktu menggelincir kian temaram
Disana kau berdiri tanpa senyum
Dibawah rintik hujan luka
Badai hati menerpa
Petir lafaz berdentam
Bertubi-tubi
Sorot tajam sinar matamu ke depan
Menapaki kerikil tajam karyamu
Menyunggi beban buah hati pujaan hati
Yang ingin kau ukir kasih indah berpengharapan
Masih kau rengkuh damba dan dekap
Siasiakah tiap cucuran peluh perjuanganmu ?
Malam ini sepi mengusik masih berhias tanpa senyummu.

Purwokerto, 11 Mei 2011





Selasa, 10 Mei 2011

Puisi : Runut Sang Ombak



Gelundung ombak mendeburkan deretan karang yg anggun
Mengusik kebisuannya , berdegam tercipta…
Sebentuk karang indah dan kokoh menopang hati yang gundah
Angin mimpi yang berhembus tak mengusik kesendiriannya
Keanggunannya bak bidadari dibawah purnama sidi, -..sempurna..!.


Gelundung ombak menari-nari dibawah pantulan rona rembulan,
Lautan adalah kasih tak bertepi dalam belu-belainya
Dasar laut adalah pijakan hati yang memendam
Mayangmayang melambai, gulungan awan dan bintang gemintang menghias
Tepian pasir pantai masih tercetak denai kasih


Jejakjejak sore hingga malam mengukir berangta
Langkahlangkah pagi, saat terik hingga tergelincirnya mentari tak kan pupus
Tapaktapak sepanjang pantai tak bertepi adalah kaulnya

…….*….kaul yang belum sanggup dia tunaikan untuk kekudusan hatinya


Purwokerto, 10 Mei 2011










Rabu, 04 Mei 2011

Jealous 2



Pagi melengut tersaput halimun luka
Masih menyisakan gundah gulana hujan yg  seakan tak pernah reda
Menelisik tiap relung ruang hampa kalbu kita
Masygul, kesel, resah dan ketidakpastian
HIngga sapaan senyum pagi ini yang kunantipun tak kunjung hadir…..
Tapi senyum buat sosok lain kau tunaikan…

Walau begitu,
………….*Cintaku tak pernah pupus…….>

Selasa, 03 Mei 2011

Puisi : Guruku

Guruku

Oleh : Nia Kania A. A.

Engkau Guruku yang lahir dari ketulusan dan jiwa luhur,
Membimbingku menatap luasnya ilmu dan dalamnya pengetahuan
Menuntunku dalam ketakwaan, kesopanan, kesusilaan dan adab yang luhur
Engkau mengajarkan tutur kalimat indah yang lembut
Menaburkan benih-benih kasih yang tiada lelah


Guruku,
Engkau adalah penumbuh kuat sayapku agar bisa terbang jauh menuju luasnya dunia
Engkau adalah obor dikala gelap pengetahuanku menemui kepekatan
Enam tahun sudah aku menimba ilmu
Enam tahun sudah aku dan teman-temanku kau tuntun dengan kesucian jiwamu
Setiap lembar kertas kutulis darimu untuk bekal menyongsong masa depan
Agar aku dan teman-temanku kuat menapak mantap meraih kemenangan

Kini saatnya kuucapkan rasa terima kasihku yang tiada tara
Kupersembahkan hadiah sebait puisi untukmu
Agar menjadi kenangan diantara kita bahwa pernah terjalin sebentuk kasih
Perpisahan ini bukanlah putusnya hubungan kita,
Tetapi aku ingin melangkah menuju jenjang yang lebih tinggi
Aku akan selalu mengenangmu seputih jiwamu
Semoga Allah membalas semua kebaikan dan kebijaksaanmu,
Semoga Allah membalas semua ketulusanmu dan pengabdianmu.


Semarang, 3 Mei 2011
Nia Kania A. A.
Kelas 6 SD Negeri Palebon 04 Semarang







Sejenak

 *...........
Jangan pejamkan matamu dalam nyenyak tidurmu
Aku hanya ingin bercengkerama sebentar,
Melepas rinduku yang tertahan sekian lama.
                                                                                   .........*


Apakah Puisi itu?



Apakah Puisi itu? Puisi termasuk salah satu genre sastra yang berisi ungkapan perasaan penyair, mengandung rima dan irama, serta diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat dan tepat. Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang digunakan serta wujud puisi tersebut. Bahasanya mengandung rima, irama, dan kiasan. Wujud puisi dapat dilihat dari bentuknya yang berlarik membentuk bait, letak tertata, dan tidak mementingkan ejaan. Mengenal puisi dapat juga membedakan wujudnya dengan membandingkan dari prosa. Ada empat unsur yang merupakan hakikat puisi, yaitu: tema, perasaan penyair, nada puisi, serta amanat.

Berdasarkan waktu kemunculannya puisi dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi modern.
Puisi lama lahir sebelum penjajahan Belanda dan masih murni berciri khas Melayu. Puisi lama terdiri dari: mantra, bidal, pantun dan karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair.

Puisi baru adalah puisi yang terpengaruh gaya bahasa Eropa. Penetapan jenis puisi baru berdasarkan jumlah larik yang terdapat dalam setiap bait.
Jenis puisi baru dibagi menjadi distichon, terzina, quatrain, quint, sextet, septina, stanza, serta soneta.

Puisi modern adalah puisi yang berkembang di Indonesia setelah masa kemerdekaan. Berdasarkan cara pengungkapannya, puisi modern dapat dibagi menjadi puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik.

Berdasarkan cara pengungkapannya, dikenal adanya puisi kontemporer dan puisi konvensional. Yang tergolong puisi kontemporer yaitu: puisi mantra, puisi mbeling, serta puisi konkret. Selain itu berdasarkan keterbacaan yaitu tingkat kemudahan memaknainya, puisi terdiri dari puisi diafan, puisi prismatis, dan puisi gelap.



Pendekatan dalam Mengapresiasi Puisi

Pendekatan merupakan seperangkat asumsi dan prinsip yang berhubungan dengan sifat-sifat puisi. Pendekatan dalam mengapresiasi puisi terdiri dari pendekatan terhadap teks puisi serta pendekatan dalam membaca puisi.
a. Pendekatan Parafrasis

Sesuai hakikatnya, puisi mengunakan kata-kata yang padat. Oleh sebab itu, banyak puisi yang tidak mudah untuk dapat dipahami terutama oleh pembaca pemula. Ada pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan penyair dalam bentuk baru yaitu menyisipkan kata atau kelompok kata dengan tujuan memperjelas makna puisi tersebut. Pendekatan ini bertujuan menguraikan kata yang padat dan menkonkretkan yang bermakna kias.


b. Pendekatan Emotif

Pendekatan ini berupaya mengajak emosi atau perasaan pembaca, berkaitan dengan keindahan penyajian bentuk atau isi gagasan. Yang ingin diketahui pembaca adalah bagaimana penyair menampilkan keindahan tersebut. Pendekatan ini juga sering diterapkan untuk memahami puisi humor, satire, serta sarkastis.


c. Pendekatan Analitis

Cara memahami isi puisi melalui unsur intrinsik pembentuk puisi. Unsur intrinsik adalah unsur yang secara langsung membangun puisi dari dalam karya itu sendiri. Unsur intrinsik puisi terdiri dari tema, amanat, nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, gaya bahasa, dan citraan.

Citraan merupakan suatu gambaran mental atau suatu usaha yang dapat dilihat di dalam pikiran (Laurence, 1973). Citraan tersebut termuat dalam kata-kata yang dipakai penyair. Citraan atau imaji dibagi menjadi:

1) Visual imagery
2) Auditory imagery
3) Smell imagery
4)Tactile imagery


d. Pendekatan Historis

Unsur ekstrinsik dapat terdiri dari unsur biografi penyair yang turut empengaruhi puisinya, unsur kesejarahan atau unsur historis yang menggambarkan keadaan zaman pada saat puisi tersebut diciptakan, masyarakat, dan lain-lain.

e. Pendekatan Didaktis
Pendekatan ini berupaya menemukan nilai-nilai pendidikan yang tertuang dalam puisi. Agar dapat menemukan gagasan tersebut, pembaca dituntut memiliki kemampuan intelektual dan kepekaan.


f. Pendekatan Spsiopsikologis

Berupaya memahami kehidupan sosial, budaya, serta kemasyarakatan yang tertuang dalam puisi. Puisi yang dapat dipahami menggunakan pendekatan sosiopsikologis serta pendekatan didaktis adalah puisi naratif.

Puisi - Tak Kuduga

Tak Kuduga

Oleh : DioN Erbe


Engkau bening hatiku yang bersemayam begitu dalam
Kutemukan luka di ruang hatimu yg terabaikan
Ada gerimis hujan menitik di sudut mata indahmu
Ada kegalauan menukik tanpa kau sadari
Kulihat daun di dahan kenangan melambai tertiup angin

Sungguh siapakah gerangan yang tega menyakiti dan
mengkhianati cinta tulusmu yang masih menyisakan kepedihan ?”

Badai kurasakan ada di ruang hatimu
Kuterka kau tertiup kenangan pahit masa remajamu
Kucoba raba angin berhembus dengan guratan analisa
Kubaca awan yg gelap andai menyisakan tanda-tandanya

Benarkah cinta yang tersakiti ingin kembali pada badai gelombang yg akan menghempasnya ataukah engkau kuat bagai karang dalam diammu ?”

Tariklah nafasmu sejenak, berbaring di ranjang kehangatanmu
Isitirahatlah di hamparan hijau hembusan angin menyejukan
Tersenyumlah saat menatap bintang pagi dengan bibirmu yang indah.
Di tepian pagi itu, aku sedang bermain dengan pedang kayu yang tumpul
Tak kuduga bahwa itu akan sedikit melukaimu
Kau menangis di sudut kenangan tanpa mau berkata.....



Purwokerto, 26 Desember 2010




Rinduku Mendekap Bayang

Oleh : DioN Erbe

Saat kau menoleh ke belakang, ku baca bait demi bait kisahmu
Bagai genderang bertalu suaranya menusuk anak telinga
Getarannya seakan membelah langit, memecah karang
Kutersentak..!! detak jantungku berhenti sesaat
”Inikah kisah paling sunyi  di goa kegelapan...”
ada titik airmata mengambang, diseling desiran darah di aorta-ku

Dulu...
Luka itu, menggurat di batu gua terukir kuat
Kau coba tutup pintunya dengan bongkahan bening hatimu,
Meruntuhkan dengan logika cergas kecerdasanmu
Di saat  terik matahari berada diatas kepalamu
Hingga menggamit rasa pedihmu

Kini...
Senyummu indah bagai gugusan pegunungan hijau membentang,
tersungkur penuh rasa syukur pada Ilaahi Rabb,
di sepanjang sajadah sujudmu
Tepian malam adalah oase segar saat munajatmu berharap
Tak ingin mengulang ”bagai orang buangan” yang disingkirkan
Padahal kau adalah kilau berlian

Sungguh tak pernah kau lupakan,
Ketika daun hijau rerimbun menyelara di batang kenangan

Rinduku mendekap bayang..!
Tiga windu titian waktu kan kutunggu..!

Dan aku bagai selasar yang masih ingin menjadi songsong
Jejak kasihmu yang suci murni
Bersama buah hatimu,
Anak-anakmu


Semarang, 1 Januari 2010



Keterangan :
Cergas = giat, cekatan
Menyelara = (daun tua yg menguning dan akhirnya gugur)
Selasar=beranda tempat rakyat menghadap pembesar
Songsong = Payung kebesaran

Senin, 02 Mei 2011

RIMA PUISI

 
PENGERTIAN
 
Rima adalah perulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.
Contoh :
 
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian


B. MACAM-MACAM RIMA

1. RIMA BERDASARKAN BUNYI

1.1. Rima Sempurna
 
Seluruh suku akhirnya berirama sama
Contoh :
ma – lang
ma – ti
pa – lang
ha - ti 
1.2. Rima Tak Sempurna
 
Hanya sebagian suku akhir yang sama
 
Contoh :
pu – lang
pa - gi
tu – kang
ha - ri 

1.3. Rima Mutlak
 
Seluruh kata berima
 
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenagan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau-silau

Kata jua yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak.


1.4. Rima Terbuka
 
Yang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama.
 
Contoh :
bu – ka
ba – tu
mu – ka
pa – lu 

1.5. Rima Tertutup
 
Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama.
 
Contoh :
hi – lang
su – sut
ma – lang
ta – kut 

1.6. Rima Aliterasi
 
Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiuap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan.
 
Contoh :
Bukan beta bijak berperi
Pandai mengubah madahan syair
Bunyi b pada kata-kata dalam baris pertama bait puisi di atas disebut rima aliterasi. 
 
 
1.7. Rima Asonansi
 
Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan.
 
Contoh :
se – cu – pak
tum - bang
se – cu – kat
mun - dam
 
Yang disebut asonansi ialah vokal-vokal e – u – a dan u – a pada kata-kata tersebut di atas.


1.8.Rima Disonansi
 
Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan.
 
Contoh :
Tin – dak tan – duk ( i– a / a – u )
Mon – dar man – dir ( o – a / a – i )



2. BERDASARKAN LETAK KATA-KATA DALAM BARIS

2.1. Rima Awal
 
Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata.
 
Contoh :
Pemuda kaulah harapan bangsa
Pemuda jangan suka berpangku tangan 

2.2. Rima Tengah

Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah.
 
Contoh :
Pemuda kaulah harapan bangsa
Pemudi kaulah harapan negeri
 
 
2.3. Rima Akhir

Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir.Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam.
 
Contoh :
Tolong - menolong umpama jari
Bantu membantu setiap hari
Bekerja selalu berlima diri
Itulah misal Tuhan memberi
 
 
2.4. Rima Tegak

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan.
 
Contoh :
Terlipat
Terikat
Engkau mencari
Terang matahari
Melambai
Melombai
Engkau beringin
Digerak angin
Terhibur
Terlipur
Engkau bermalam
Di tepi kolam
(J.E. Tatengkeng) 

2.5. Rima Datar

Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama.
 
Contoh :
Air mengalir menghilir sungai
(bunyi ir pada akhir ketiga kata)


2.6. Rima Sejajar
 
Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun.
 
Contoh :
Dapat sama laba
Cicir sama rugi
Bukit sama didaki
Lurah sama dituruni
Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing
Terapung sama hanyut
Terendam sama basah. 

2.7. Rima Berpeluk (Rima Berpaut)

Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga.Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rima a – b – b – a
 
Contoh :
Perasaan siapa ta’kan nyala ( a )
Melihat anak berlagu dendang ( b )
Seorang sajak di tepi padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
 
 
2.8. Rima Bersilang (Rima Salib)

Rima yang letaknya berselang-selang.
Misalnya baris pertama berima dengan baris ketiga, dan baris kedua berima dengan baris keempat.
Rima ini dapat kita jumpai dalam bentuk Pantun yang berrumus a – b – a – b.
 
Contoh :
Burung nuri burung dara ( a )
Terbang ke sisi taman kayangan ( b )
Karangan janggal banyak tak kena ( a )
Daripada paham belum sempurna ( b )
 
 
2.9. Rima Rangkai

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada kalimat-kalimat yang beruntun.
Bentuk ini dapat kita jumpai dalam bentuk Syair dengan rumusnyaa – a – a – a ; b – b – b –b
 
Contoh :
Hatiku rindu bukan kepalang ( a )
Dendam berahi berulang-ulang ( a )
Air mata bercucuran selang menjelang ( a )
Mengenangkan adik kekasih abang ( a )
Diriku lemah anggotaku layu ( b )
asakan cinta bertalu-talu ( b )
Kalau begini datanglah selalu ( b )
Tentulah kanda berpulang dahulu ( b )

 
2.10. Rima Kembar 
 
Apabila kalimat yang beruntun dua-dua berima sama.
Misalnya dengan abjad a – a – b – b atau c – c – d – d – e – e dan seterusnya.
 
Contoh :
Sedikitpun matamu tak berkerling ( a )
Memandang ibumu sakit berguling ( a )
Air matamu tak bercucuran ( b )
Tinggalkan ibumu tak penghiburan ( b )
( J. E. Tatengkeng) 

2.11. Rima Patah
 
Apabila dalam bait-bait puisi ada kata yang tidak berima sedangkan kata-kata lain pada tempat yang sama di baris-baris lain memilikinya.
Rumus rima patah adalah a – a – b – a atau b – c – b – b
 
Contoh :
Beli baju ke pasar Minggu ( a )
Jangan lupa beli duku ( a )
Beli kemeja ke pasar Senen ( b )
Jangan lupa ajaklah daku ( a )
Beli kemeja ke pasar Senen( b )
Jangan lupa membesi dasi ( c )
Jangan suka jajan permen ( b )
Lebih baik dibelikan semen ( b ) 

2.12. Rima Merdeka
 
Tidak ada yang bersajak
 
Contoh :
Hanya sebuah bintang ( a )
Kelip kemilau ( b )
Tercapak di langit ( c )
Tidak berteman ( d )
(Aoh Kartadimadja)
 
 
3. RIMA MENURUT RUPANYA
 
Rima Rupa

Rima rupa hanya terdapat pada puisi-puisi Melayu Klasik yang ditulis dengan huruf Arab – Melayu.Tulisan ( bentuknya) tampak sama, tetapi bunyinya berbeda.
 
Contoh :
1. Tulisan kata ramai dengan rami.
2. Tulisan kata lampau dengan lampu.
Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat contoh berikut ini :
 
Contoh :
1. Kota Jakarta yang berpenduduk hampir tujuh juta orang itu sangat ramai.
2. Pada masa lampau kehidupan masyarakat masih sederhana.

Kata ramai tentu saja tidak dibaca rami, melainkan ramai, dan kata lampau tidak dibaca lampu melainkan lampau.

Puisi : Al-Urwatul Wutsqa

Al-Urwatul Wutsqa
(Ikatan Yang Kuat)
Oleh : Dion Erbe



Sepenggal malam ketika suara senyap
hanya hembusan nafas yang menguar aroma wewangian
terbayang kesyahduan mata indahmu, menukik berujar rasa
kekangku tertambat di kedalaman gairah



Kian larut dalam malam,
Terangkum cahaya pendar ketulusan
Dari angin yang mengurai seribu bahasa
Menguak kerinduanku yang dalam.



Walau tak pernah kau ungkapkan
Namun selalu kau lambangkan lewat sederet rajutan kasih.



Dari gerak jarimu yang berkutat dengan seribu kisah
Berkelebat, mengambang diantara ilusi belantara
Dari denting yg mengawali pagelaran kemesraan,
Berpaut,
akan merangkai simpul Al-Urwat yang kuat


Purwokerto, Minggu Pertama Nopember 2010
*Al-Urwat = Tali ikatan
*Al-Wutsqa = yang kuat


Jealous


Pandang mataku sudah mulai suram yang tak bisa membedakan mana fatamorgana dan realita lagi,
tetes airmataku menumpah di cawan rasa haru dan sedih
Menatap kekasih merengkuh harapan fajar
Langkah kecil meniti dekapan mesra,
Di rumah bercat putih kenangannya.


Kupersiapkan diriku untuk kuat menahan gejolak darah dan aliran oksigen di pucat pasi wajahku,
Mampukah aku menyaksikan kekasih mengulurkan tangan buatnya lagi ?
Atau aku yang telah lemah dan tak mampu menyajikan cawan kebahagiaan ?
Nyatanya ketakberdayaanku menumbuhkan sayap barunya.
Mengepak lemah di dahan rapuh Cinta lamanya.


Purwokerto, 2 Mei 2011